Tutiumiyati’s Weblog

Hidup adalah perjuangan, maka berjuanglah untuk hidup

Pilihan Dalam Desain (Web)

Bermula dari pertanyaan saya mengenai CSS di milis teknologia, timbul diskusi mengenai penggunaan font tertentu dalam desain..

Masalahnya adalah font tidak tersedia di semua sistem operasi. Bahkan lebih jauh lagi Yohanes Nugroho mengusulkan untuk tidak menggunakan font yang hanya ada di sistem operasi (OS) tertentu karena nanti akan ada masalah dengan HaKI. Pemilihan font tertentu memang “memaksa” pembaca untuk mengikuti pilihan dari pembuat situs web (blog). Padahal seringkali pembaca memiliki kesenangan tersendiri. Misalnya ada yang senang font agak besar, karena sulit membaca font yang kecil. Atau ada yang suka dengan font tertentu agar mudah dibaca. Itu sebabnya situs yang dinamik, yang menyesuaikan diri dengan kesukaan pembacanya, lebih banyak menarik pembaca.

Susahnya adalah kalau menyerahkan tampilan kepada pembaca maka layout desain kadang-kadang tidak sepenuhnya seperti yang dibayangkan oleh desainer web. Kadang-kadang ini mengakibatkan tampilan menjadi “kacau.” Memang lagi-lagi desainer yang disalahkan karena desainnya tidak portable. Terus terang, “keburukan” dari desain web dengan menggunakan HTML jaman dahulu adalah karena tidak adanya paksaan ini. Jadi, paksaan itu baik! (Hah?)

Ah. Jadi bagaimana desain yang baik? Apakah kita paksakan desain kita sehingga sesuai dengan respon yang kita harapkan? Ataukah kita beri kebebasan kepada pembaca?

Secara bukan desainer web, tulisan ini diperuntukkan hanya bagi awam atau pemula WordPress berbayar yang ingin menjajal ‘ngoprek’ desain WordPress. Para desainer web dan pengguna yang telah berpengalaman tentu  diharapkan ikut memberikan masukannya!

Saat mencoba mengubah tampilan blog WordPress berbayar ini pertama kali, saya sempat mencobanya di komputer jinjing sendiri yang juga difungsikan sebagai peladen (server) dengan sistem operasi Slackware Linux 12. Dibantu dengan peramban Firefox plus ekstensi (wajib) Web Developer-nya, terjadilah beberapa perubahan secara luar jaringan (offline; jika ada daring berarti nanti ada luring kan..[??]) di localhost.

Walaupun terasa sudah pas menurut pandangan pribadi, secara memang bukan desainer web yang bekerja dengan aturan dan perencanaan konsep yang matang..akhirnya terjadi juga bongkar pasang tema, widget, templat, hingga CSS.

Beberapa langkah ada yang dapat dicoba tanpa terhubung dengan jaringan dan ada yang harus terkoneksi Internet. Setidaknya ekstensi ‘Web Developer’ masih mau membantu dengan setia, misalnya:

  1. Pada menu ‘CSS’, kita dapat mengedit CSS utama atau menurut ‘media type’-nya: ‘handheld’, ‘print’.
  2. Di menu ‘Images’, kita bisa melihat ukuran / dimensi gambar yang digunakan. Lumayan membantu untuk melengkapi atribut alt="...", width="..." serta height="...". Atau mencoba tampilan blog tanpa gambar. Terutama demi menghindari tumpang tindih gambar latar dan teks. Misalnya pada kejadian saat gambar latar tidak ditampilkan (tidak terunggah [upload] sempurna karena lambatnya koneksi, atau sengaja di-disable images), teks menjadi tidak nampak karena warnanya sama dengan warna latar tanpa gambar.
  3. Menu ‘Information’, membantu untuk menampilkan informasi-informasi penting, seperti mana bagian / blok id, div, class. Bahkan objek, javascript, warna yang digunakan, info atribut lainnya dapat kita periksa.
  4. Pada ‘Miscellaneous’, diantaranya bisa membantu mengedit HTML dan melihat tampilan small screen rendering (untuk menguji tampilannya di perangkat mobil..seberapa efektif ya..[?]).
  5. Menu ‘Resize’ bisa kita tambahkan resolusi lain yang ingin dicoba selain (umumnya) 1024×768. Bagaimana tampilan blog kita dengan resolusi 640×480, 800×600 atau mungkin pada layar yang lebih lebar / wide screen (1600×900; 3840×2400)?
  6. Berikutnya menu ‘Tools’ yang memuat beberapa perangkat, seperti validasi CSS, Feed, HTML, Links, WAI, cek Speed Report. Bisa juga ditambahkan validasi X/HTML dari Validome.org dengan menambahkan http://www.validome.org/validate?verbose=1&uri= pada baris URL-nya.

Setelah dicoba melihat tampilannya / perubahannya dengan ekstensi tersebut, baru kode-kode yang berkenan disalin ke CSS atau templat blog. Jadi kita tidak perlu menghabiskan jatah lebar pita, biaya dan waktu koneksi untuk mengedit blog. Sedikit banyak, dengan WordPress + ‘Web Developer’ juga dapat membantu mewujudkan desain blog yang lebih ramah pengguna, peramban dan mesin pencari tapi masih mengadopsi standar web.

 Sumber:

 http://rahard.wordpress.com/2006/06/08/pilihan-dalam-desain-web/

 

 Dan dikutip dari blog  Dani Iswara

 

 

 

 

 

April 13, 2008 - Ditulis oleh tutiumi | Tak Berkategori | | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar